Pulang kerja, mata tertumbuk pada mobil baru tetangga yang mengkilap. Atau, saat membuka linimasa media sosial, unggahan teman tentang renovasi rumah mewah atau liburan ke luar negeri seolah menyapa, 'Apa kabar rumah tanggamu yang begini-begini saja?' Pernahkah, di momen-momen itu, hati terasa tiba-tiba sempit, seperti ada lubang tak terisi yang menganga, meski Anda tahu betapa banyak nikmat Allah yang sudah tercurah?
Perasaan ini bukan sekadar iri, melainkan wujud kelelahan batin akibat perangkap perbandingan tak berujung. Kita terjebak dalam perlombaan tak kasat mata, mengukur kebahagiaan rumah tangga kita dengan standar eksternal yang terus berubah dan seringkali artifisial. Akibatnya, alih-alih bersyukur atas atap yang menaungi, makanan yang tersedia, atau senyum keluarga, kita malah disibukkan oleh rasa kurang, memicu stres, bahkan konflik dalam rumah tangga.
Dalam khazanah tasawuf, kegelisahan ini adalah cerminan dari hati yang belum menemukan qana'ah – sebuah konsep yang jauh melampaui sekadar 'menerima apa adanya'. Qana'ah, sebagaimana digariskan oleh para ulama salaf, adalah kekayaan hati yang sesungguhnya. Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin menjelaskan bahwa qana'ah adalah puncak dari zuhd (asketisme hati), di mana seorang hamba merasa cukup dengan karunia Allah, membebaskan diri dari belenggu keinginan duniawi yang tak berkesudahan.
Allah Subhanahu wa Ta'ala sendiri telah mengingatkan kita tentang hakikat kehidupan dunia yang fana ini:
اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
'Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam banyaknya harta dan anak cucu, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.' (QS. Al-Hadid: 20). Ayat ini bukan hanya peringatan, melainkan peta jalan agar hati tidak tersesat dalam fatamorgana perbandingan.Baca Juga
Ketika Jiwa Merana dalam Lelah Rumah Tangga: Sabar Sejati Menurut Al-Ghazali
Untuk mengobati hati yang rentan membandingkan, Rasulullah ﷺ memberikan resep yang amat mujarab:
انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ
'Lihatlah orang yang di bawahmu (dalam hal dunia), dan janganlah melihat orang yang di atasmu, karena hal itu lebih patut agar kamu tidak meremehkan nikmat Allah kepadamu.' (HR. Muslim). Hadits ini bukan mengajarkan kita untuk merendahkan orang lain, melainkan sebuah strategi batin untuk mengukuhkan rasa syukur. Dengan melihat ke bawah, kita menyadari betapa banyak yang telah kita miliki, yang mungkin menjadi impian banyak orang.Membangun rumah tangga yang damai dan berkah berarti membangun fondasi hati yang kokoh, yang tidak mudah goyah oleh hiruk-pikuk dunia. Ini adalah perjalanan pembinaan hati, mahabbah, yang dimulai dengan langkah-langkah kecil nan istiqomah. Ketika hati kita terpaut pada cinta Rasulullah ﷺ, dan bibir tak henti bersholawat serta mata tak jemu menatap kalam Ilahi, fokus kita akan bergeser. Kita akan menemukan kekayaan sejati bukan pada apa yang kita miliki dibandingkan orang lain, melainkan pada kedekatan kita dengan Sang Pencipta dan teladan Nabi-Nya. Ini adalah esensi dari Gerakan Sholawat Tanpa Syarat yang kami gaungkan: bukan untuk janji materi, melainkan untuk ketenangan hati.
Sungguh, rumah tangga yang paling indah bukanlah yang paling mewah, melainkan yang paling tentram, yang di dalamnya tumbuh mahabbah kepada Allah dan Rasul-Nya. Mari kita hentikan perlombaan yang melelahkan ini. Fokus pada apa yang Allah anugerahkan kepada kita, dan pupuklah rasa syukur itu setiap hari. Bersama komunitas AlFatihRPS, mari rutin setor sholawat dan menyempatkan tadarus Al-Qur'an, bukan sebagai ajang pamer, melainkan sebagai jalan membina hati dan mengukuhkan istiqomah.
Gabung pejuang istiqomah: Bersama komunitas AlFatihRPS, mari rutin setor sholawat dan menyempatkan tadarus Al-Qur'an — klik di sini untuk mulai setor sholawat atau baca Al-Qur'an bersama.