Jam sembilan malam, anak-anak sudah terlelap, dan kamu akhirnya bisa rebahan sejenak. Jemari otomatis menyentuh layar ponsel, membuka Instagram. Sekelebat, muncul foto pasangan teman dengan latar belakang menara Eiffel, lengkap dengan *caption* romantis. Lalu kamu melirik suami yang sedang sibuk dengan dunianya sendiri di sudut ruangan. Tiba-tiba, rasa hampa itu muncul lagi. Pertanyaan-pertanyaan tak diundang menyeruak: “Kenapa hidupku tidak seindah itu?” atau “Mengapa suamiku tidak seromantis dia?”
Fenomena ini bukan sekadar kecemburuan biasa. Ini adalah racun perbandingan yang menyelinap lewat layar, mengikis pelan-pelan rasa syukur dan kebahagiaan dalam rumah tangga kita. Media sosial, dengan segala keindahannya yang terkurasi, seringkali menampilkan ilusi kesempurnaan. Setiap senyum, setiap liburan, setiap hadiah mahal adalah “konten” yang dipoles, jauh dari realitas pahit manis sebuah perjalanan rumah tangga yang otentik. Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin pernah mengingatkan kita tentang bahaya riya’ (pamer) dan hasad (iri hati). Meskipun konteksnya berbeda, esensi bahayanya tetap relevan: ketika kita membandingkan diri dengan yang lain, kita membuka pintu bagi penyakit hati yang menggerogoti ketenangan batin.
Perbandingan yang tak sehat ini perlahan merusak fondasi mahabbah (cinta sejati) dalam pernikahan. Kita mulai menuntut pasangan menjadi sosok yang kita lihat di layar, lupa bahwa setiap rumah tangga punya ujian dan kebahagiaannya sendiri yang unik. Kualitas hubungan tidak diukur dari jumlah likes atau destinasi liburan, melainkan dari ketenangan hati dan rasa syukur atas apa yang Allah anugerahkan. Rasulullah ﷺ bersabda:
انظروا إلى من هو أسفل منكم، ولا تنظروا إلى من هو فوقكم، فهو أجدر أن لا تزدروا نعمة الله عليكم
“Lihatlah orang yang berada di bawahmu dan janganlah melihat orang yang berada di atasmu, karena yang demikian itu lebih patut agar kamu tidak meremehkan nikmat Allah yang telah dilimpahkan kepadamu.” (HR. Muslim). Hadits ini adalah penawar paling mujarab untuk hati yang mulai diracuni perbandingan.Melihat ke bawah bukan berarti merendahkan, melainkan sebuah latihan spiritual untuk menguatkan rasa syukur. Ibnu 'Athaillah As-Sakandari dalam Al-Hikam mengajarkan tentang pentingnya menerima takdir Allah dengan lapang dada, dan bahwa segala sesuatu yang Dia berikan adalah kebaikan, meskipun terkadang tidak sesuai dengan ekspektasi kita. Rumah tangga adalah medan jihad untuk belajar sabar, bersyukur, dan mencintai apa adanya. Ia adalah ruang suci yang harus dijaga dari intervensi ‘pamer’ dan ‘iri’ yang datang dari luar.
Baca Juga
Ketika Jiwa Merana dalam Lelah Rumah Tangga: Sabar Sejati Menurut Al-Ghazali
Maka, bagaimana kita menjaga mahligai cinta ini dari serbuan ilusi digital? Kuncinya adalah kembali pada diri sendiri, pada pasangan, dan pada Sang Pemberi Cinta. Niatkan setiap interaksi, setiap pengorbanan, sebagai ibadah yang tulus. Fokuskan energi untuk membangun kedalaman hubungan, bukan sekadar tampilan luar. Perkuat ikatan batin dengan memperbanyak zikir, sholawat, dan tadarus Al-Qur'an bersama. Ini adalah investasi hati yang tak akan pernah lekang oleh waktu, apalagi oleh tren media sosial.
Allah ﷻ berfirman: وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Rum: 21). Ayat ini menegaskan bahwa tujuan pernikahan adalah ketenangan (sakinah), kasih sayang (mawaddah), dan rahmat (rahmah), bukan kompetisi atau ajang pamer. Ketenangan sejati hanya datang dari hati yang bersyukur dan jauh dari perbandingan yang melenakan.Gabung pejuang istiqomah: Bersama komunitas AlFatihRPS, mari rutin setor sholawat dan menyempatkan tadarus Al-Qur'an — klik di sini untuk mulai setor sholawat atau baca Al-Qur'an bersama.