Jam menunjukkan pukul sebelas malam. Kamu dan pasangan baru saja selesai membereskan rumah setelah seharian penuh dengan rutinitas yang melelahkan. Besok adalah tanggal istimewa, hari ulang tahun pernikahan kalian. Namun, alih-alih diliputi gairah romansa, yang muncul justru kelelahan batin. Di benakmu terlintas foto-foto teman di media sosial yang baru saja merayakan anniversary dengan makan malam mewah, hadiah fantastis, atau liburan ke luar negeri. Hati terasa mencelos. Bukan karena iri, tapi karena muncul beban, “Haruskah kami juga seperti itu? Bagaimana caranya, sementara kebutuhan harian saja sudah begitu ketat?”
Keresahan ini bukan sekadar soal materi, melainkan luka batin yang mengikis makna sejati dari sebuah perayaan. Ulang tahun pernikahan, yang seharusnya menjadi momen syukur dan refleksi atas perjalanan cinta yang Allah karuniakan, seringkali bergeser menjadi ajang pembuktian diri atau pemenuhan ekspektasi sosial. Kita terjebak dalam lingkaran performa, di mana kebahagiaan diukur dari seberapa besar dan mewah pesta yang diselenggarakan, bukan dari seberapa tulus hati yang bersyukur dan bermahabbah.
Mengapa Kesederhanaan adalah Kekuatan Sejati
Dalam khazanah tasawuf, terutama yang diajarkan oleh Imam Al-Ghazali dalam kitab monumental beliau, Ihya' Ulumuddin, nilai sebuah amal tidak terletak pada bentuk lahiriahnya yang gemerlap, melainkan pada ketulusan niat (niyyah) dan keikhlasan (ikhlas) yang menyertainya. Merayakan ulang tahun pernikahan, jika diniatkan sebagai bentuk syukur kepada Allah atas karunia pasangan hidup, momen introspeksi untuk memperbaiki diri, dan penguatan kembali ikatan mahabbah, maka kesederhanaan justru akan memancarkan kekuatan spiritual yang lebih besar.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Al-Qur'an:
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Rum: 21)
Ayat ini mengingatkan kita bahwa esensi pernikahan adalah ketenangan (sakinah), kasih sayang (mawaddah), dan rahmat. Bukan kemewahan materi, melainkan kedalaman ikatan batin yang dipupuk dengan keikhlasan. Ibnu 'Athaillah As-Sakandari dalam Al-Hikam juga menekankan pentingnya menemukan kebahagiaan dalam apa yang Allah anugerahkan, bukan pada apa yang kita kejar dari dunia. Perayaan sederhana yang diisi dengan doa, tilawah Al-Qur'an bersama, atau sekadar berbagi cerita perjalanan, jauh lebih berharga daripada pesta megah yang minim makna spiritual.
Baca Juga
Ketika Jiwa Merana dalam Lelah Rumah Tangga: Sabar Sejati Menurut Al-Ghazali
Adab Merayakan Cinta dengan Hikmah
Bagaimana adab merayakan ulang tahun pernikahan secara sederhana namun tetap bermakna? Pertama, fokus pada niat. Niatkan perayaan ini sebagai bentuk syukur kepada Allah, bukan untuk pamer atau memenuhi tuntutan tren. Kedua, perkuat ikatan batin. Manfaatkan momen ini untuk berdialog dari hati ke hati, saling memaafkan, dan merajut kembali benang-benang kasih sayang yang mungkin sempat kendur di tengah kesibukan.
Rasulullah ﷺ sendiri telah mengajarkan kita tentang keberkahan dalam kesederhanaan. Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda:
الْبَرَكَةُ فِي ثَلَاثَةٍ: فِي النِّكَاحِ وَالْخُبْزِ وَالْقَمْحِ
“Keberkahan itu ada pada tiga hal: dalam pernikahan, dalam roti, dan dalam gandum.” (HR. Ibnu Majah, disahihkan oleh Al-Albani)
Hadits ini, meskipun singkat, mengisyaratkan bahwa keberkahan seringkali ditemukan dalam hal-hal fundamental dan sederhana dalam hidup, termasuk pernikahan itu sendiri. Jadi, alih-alih membebani diri dengan ekspektasi yang tinggi, mari kita rayakan ulang tahun pernikahan dengan cara yang lebih merangkul hati. Mungkin dengan memasak makanan kesukaan pasangan di rumah, menulis surat cinta yang tulus, atau meluangkan waktu khusus untuk sholat berjamaah dan berdoa bersama. Ini adalah bentuk mahabbah yang sesungguhnya, yang akan menumbuhkan sakinah, mawaddah, dan rahmah dalam rumah tangga.
Gabung pejuang istiqomah: Bersama komunitas AlFatihRPS, mari rutin setor sholawat dan menyempatkan tadarus Al-Qur'an — klik di sini untuk mulai setor sholawat atau baca Al-Qur'an bersama.