Renungan Mahabbah Rujukan Redaksi

Mengapa Hati Tetap Gelisah Meski Telah Berbuat Baik?

Jam 9 malam, setelah seharian sibuk membantu acara bakti sosial di kampung, kamu rebahkan diri di sofa. Tubuh memang lelah, tapi ada yang lebih mengganggu: bisi...

Mengapa Hati Tetap Gelisah Meski Telah Berbuat Baik?
Himbauan redaksi

Artikel ini disusun sebagai bahan bacaan dan rujukan awal. Untuk kajian akademis, pembaca disarankan mencocokkan dalil, kutipan, dan istilah dengan sumber primer atau pembimbing keilmuan yang terpercaya.

Jam 9 malam, setelah seharian sibuk membantu acara bakti sosial di kampung, kamu rebahkan diri di sofa. Tubuh memang lelah, tapi ada yang lebih mengganggu: bisikan halus di benak, “Apakah tadi ada yang melihatku? Apakah mereka terkesan?” Atau, setelah berjuang menyelesaikan proyek amal, ada dorongan untuk segera mengunggahnya ke media sosial, menanti pujian dan “like” yang tak kunjung cukup mengisi kekosongan. Kegelisahan semacam ini, meski samar, adalah pertanda bahwa hati kita mungkin sedang digoda oleh riya.

Dalil

Allah berfirman:

وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا

Artinya: Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. (QS. At-Talaq: 2)

Rasulullah ﷺ bersabda:

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

Artinya: Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang istiqomah, meskipun sedikit. (HR. Bukhari dan Muslim)

Riya adalah penyakit hati yang sangat licik, ia menyusup ke dalam amal kebaikan kita, menggerogoti pahala, dan merampas kedamaian batin. Ia bukan hanya tentang pamer secara terang-terangan, melainkan juga bisikan halus yang berharap pengakuan, pujian, atau sekadar kesan baik dari manusia. Ketika niat bergeser dari semata-mata mencari ridha Allah ﷺ menjadi mencari pandangan manusia, saat itulah kebaikan yang seharusnya menenangkan justru terasa hampa, bahkan membebani. Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin menjelaskan, riya adalah ‘mencari kedudukan di hati manusia dengan memperlihatkan amalan kebaikan’.

Baca Juga

Paradoks 'Indonesia Bangkit': Antara Optimisme Angka dan Kelelahan Jiwa

Lantas, bagaimana kita melindungi hati dari jerat halus riya ini? Kuncinya adalah keikhlasan, sebuah konsep yang begitu fundamental dalam tasawuf Ahlus Sunnah wal Jamaah. Ikhlas berarti memurnikan niat, menjadikan setiap amal hanya tertuju kepada Allah semata, tanpa sedikit pun campuran motif duniawi atau harapan pujian dari makhluk. Allah ﷻ berfirman:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5)

Ayat ini menegaskan bahwa inti dari agama adalah ibadah dengan keikhlasan. Tanpa keikhlasan, amal sebesar apapun bisa menjadi sia-sia di hadapan Allah. Rasulullah ﷺ pun telah mengingatkan bahaya riya yang begitu parah, bahkan bisa menghanguskan seluruh amal. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda tentang tiga golongan manusia yang pertama kali dihisab di hari kiamat: seorang syahid, seorang ahli ilmu, dan seorang dermawan. Namun, mereka semua dilemparkan ke neraka karena amal mereka bukan karena Allah, melainkan untuk mencari pujian manusia. (HR. Muslim). Kisah ini adalah peringatan keras betapa tipisnya batas antara amal yang diterima dan yang ditolak, hanya karena perbedaan niat di dalam hati.

Membina keikhlasan adalah perjalanan seumur hidup, sebuah jihad batin yang tak pernah usai. Ibnu 'Athaillah As-Sakandari dalam Kitab Al-Hikam mengajarkan, “Amal yang muncul dari keikhlasan tidak akan pernah sia-sia, sekalipun kecil.” Ini berarti, fokus kita seharusnya bukan pada besar-kecilnya amal di mata manusia, melainkan pada kemurnian niat di hadapan Sang Pencipta. Ketika kita berbuat baik, biarkanlah tangan kanan memberi tanpa diketahui tangan kiri, sebagaimana sabda Nabi ﷺ. Praktikkan ‘amal sirr’ (amal tersembunyi) sesering mungkin, karena itu adalah benteng terkuat melawan riya dan ujian paling jujur bagi keikhlasan hati.

Bagi kita para pejuang AlFatihRPS, Gerakan Sholawat Tanpa Syarat adalah manifestasi dari semangat keikhlasan ini. Bersholawat dan tadarus Al-Qur'an setiap hari, bukan untuk pamer jumlah, bukan untuk mengharapkan balasan duniawi, apalagi pujian. Melainkan semata-mata karena cinta (mahabbah) kepada Rasulullah ﷺ dan ketaatan kepada Allah ﷻ. Inilah pembinaan hati yang sesungguhnya: istiqomah dalam langkah kecil yang konsisten, menjaga niat tetap lurus, dan merasakan kedamaian dari ibadah yang murni.

Gabung pejuang istiqomah: Bersama komunitas AlFatihRPS, mari rutin setor sholawat dan menyempatkan tadarus Al-Qur'an — klik di sini untuk mulai setor sholawat atau baca Al-Qur'an bersama.

Bagikan Artikel
Arsip Bacaan

Jelajahi tulisan lainnya

18 pilihan
Renungan Mahabbah

Ketika Panji Agama Jadi Topeng: Mengapa Hati Tetap Terluka Meski Janji Suci Diucap?

05 Jul 2026
Renungan Mahabbah

Ketika Kesedihan Tak Berujung Justru Membuka Pintu Hikmah?

04 Jul 2026
Renungan Mahabbah

Lumbung Pangan dari Penjara: Menguak Hikmah Pengelolaan Krisis ala Nabi Yusuf

01 Jul 2026
Renungan Mahabbah

Ketika Memilih Mundur Justru Menyelamatkan Iman: Belajar dari Ashabul Kahfi

01 Jul 2026
Renungan Mahabbah

Ketika Iman Menuntut Jeda: Hikmah Uzlah Ashabul Kahfi di Tengah Bising Dunia

01 Jul 2026
Renungan Mahabbah

Ashabul Kahfi: Mundur untuk Maju dalam Iman

01 Jul 2026
Renungan Mahabbah

Ketika Gelar 'Istri Sholehah' Terasa Beban: Menyelami Makna Sejati dalam Hikmah Tasawuf

01 Jul 2026
Renungan Mahabbah

Ketika Lingkungan Meracuni Iman: Beranikah Kita Memilih Mundur Seperti Ashabul Kahfi?

01 Jul 2026
Renungan Mahabbah

Ketika Mundur Adalah Kekuatan: Hikmah Ashabul Kahfi di Tengah Keriuhan Modern

01 Jul 2026
Renungan Mahabbah

Dari Penjara ke Lumbung Pangan: Bagaimana Krisis Menjadi Pintu Hikmah Nabi Yusuf?

01 Jul 2026
Renungan Mahabbah

Nabi Yunus: Ketika Seorang Nabi Merasa Pergi Sebelum Waktunya

01 Jul 2026
Renungan Mahabbah

Bisakah Kita Memaafkan Mereka yang Pernah Menghancurkan Hidup Kita?

01 Jul 2026
Renungan Mahabbah

Debat Satu Kalimat: Ketika Kebenaran Tak Mampu Menggerakkan Hati

01 Jul 2026
Renungan Mahabbah

Ketika Kesabaran Berbicara: Mengapa Nabi Ayyub Tak Pernah Mengeluh pada Manusia?

01 Jul 2026
Renungan Mahabbah

Qarun: Mengapa Kekayaan Justru Menelan Pemiliknya?

01 Jul 2026
Renungan Mahabbah

Dakwah Nabi Luth: Mengapa Hati Tetap Tegar Meski Tak Ada yang Berubah?

01 Jul 2026
Renungan Mahabbah

Raja Terbesar yang Tak Pernah Sombong: Amanah Kekuasaan Nabi Sulaiman

01 Jul 2026
Renungan Mahabbah

Kisah Ifk: Ketika Fitnah Merobek Batin, Bagaimana Hati Tetap Teguh?

01 Jul 2026
Disclaimer

Catatan penggunaan rujukan AlFatihRPS

Artikel di AlFatihRPS disusun sebagai bahan bacaan, pengingat, dan pintu awal menuju kajian yang lebih tertib. Untuk keputusan hukum, fatwa, atau kajian akademis mendalam, pembaca tetap dianjurkan mencocokkan dalil dan penjelasan dengan guru, pembimbing, atau sumber primer yang terpercaya.

Home Doa Kategori Al-Qur'an Member

Pilih Kategori

Navigasi Artikel

AKTIVITAS JAMAAH baru saja
Memuat...

Live Statistik

Realtime
Sholawat Hari Ini ...
Khatam Quran ...
Jadwal Sholat Sidoarjo --
SUBUH
--:--
DZUHUR
--:--
ASHAR
--:--
MAGHRIB
--:--
ISYA
--:--
Logo AlFatihRPS

Instal Portal AlFatihRPS

Pasang aplikasi untuk akses cepat artikel, komunitas, dan fitur lainnya langsung dari HP Anda.