Muamalah & Sosial Rujukan Redaksi

Mengapa Hati Terasa Sesak Saat Melihat Rezeki Orang Lain?

Jam makan siang di kantor. Sambil menunggu pesanan datang, jari-jemari sibuk menggulir linimasa media sosial. Tiba-tiba, sebuah unggahan muncul: teman lama yang...

Mengapa Hati Terasa Sesak Saat Melihat Rezeki Orang Lain?
Himbauan redaksi

Artikel ini disusun sebagai bahan bacaan dan rujukan awal. Untuk kajian akademis, pembaca disarankan mencocokkan dalil, kutipan, dan istilah dengan sumber primer atau pembimbing keilmuan yang terpercaya.

Jam makan siang di kantor. Sambil menunggu pesanan datang, jari-jemari sibuk menggulir linimasa media sosial. Tiba-tiba, sebuah unggahan muncul: teman lama yang memamerkan liburan mewah di luar negeri, atau rekan kerja yang baru saja membeli mobil impian. Seketika, senyum di bibir memudar. Hati terasa sesak, seolah ada beban tak kasat mata yang menindih. Padahal, gaji baru saja cair, tapi mengapa rasa kurang ini tak kunjung hilang, justru makin menjadi?

Keresahan ini bukan sekadar tentang materi. Ia adalah cermin dari gejolak batin yang lebih dalam, sebuah perangkap perbandingan yang seringkali tanpa sadar kita ciptakan sendiri. Dalam istilah tasawuf, ini adalah salah satu bentuk ketidakpuasan terhadap takdir Allah SWT, atau kurangnya sifat qana'ah (merasa cukup) dan rida (ridha) terhadap apa yang telah digariskan. Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin dengan tajam menguraikan bahwa iri hati (hasad) adalah penyakit hati yang membakar kebaikan, memadamkan cahaya syukur, dan merenggut ketenangan jiwa. Ia bagaikan api yang melahap kayu bakar, tak menyisakan apa-apa kecuali abu.

Padahal, Allah SWT telah menegaskan bahwa pembagian rezeki adalah hak prerogatif-Nya, sebuah hikmah yang seringkali luput dari pandangan kita yang terbatas. Tiap jiwa telah dijamin rezekinya, sesuai dengan takaran dan hikmah yang hanya Dia yang tahu. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

أَهُمْ يَقْسِمُونَ رَحْمَتَ رَبِّكَ ۚ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۚ وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَتَّخِذَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا سُخْرِيًّا ۗ وَرَحْمَتُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ


“Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kamilah yang menentukan penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat memanfaatkan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Az-Zukhruf: 32)

Ayat ini adalah pengingat keras bahwa kita bukanlah penentu rezeki, apalagi pengatur takdir. Setiap orang memiliki porsi dan perannya masing-masing dalam orkestra kehidupan. Ketenangan sejati baru akan hadir saat kita mampu melihat setiap rezeki yang Allah SWT berikan, baik kepada diri sendiri maupun orang lain, sebagai bagian dari rencana ilahi yang sempurna. Ini adalah esensi dari rida, menerima dengan lapang dada segala ketetapan-Nya, tanpa sedikit pun terbersit rasa iri.

Baca Juga
Kenapa Khadijah Menenangkan Nabi dengan Daftar Orang yang Pernah Ditolong?

Kenapa Khadijah Menenangkan Nabi dengan Daftar Orang yang Pernah Ditolong?

Rasulullah SAW, sang teladan agung, mengajarkan kita sebuah kunci untuk memadamkan api iri hati ini. Beliau bersabda:

انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ


“Lihatlah kepada orang yang lebih rendah darimu dan janganlah melihat kepada orang yang lebih di atas darimu, karena yang demikian itu lebih patut agar kamu tidak meremehkan nikmat Allah kepadamu.” (HR. Muslim)

Hadits ini bukan berarti kita dilarang memiliki aspirasi atau kemajuan, melainkan sebuah bimbingan untuk menjaga hati agar tetap bersyukur. Dengan melihat mereka yang kurang beruntung, kita akan lebih menghargai nikmat yang telah kita miliki. Ini adalah metode pembinaan hati yang diajarkan oleh para salafus shalih, sebuah jalan menuju kemerdekaan batin dari belenggu perbandingan duniawi. Ibnu 'Athaillah As-Sakandari dalam Al-Hikam menekankan pentingnya merasa cukup dengan karunia Allah SWT, sebab kebahagiaan sejati bukanlah pada memiliki segalanya, melainkan pada ketenangan jiwa yang lahir dari penerimaan.

Maka, bagaimana kita bisa mencapai ketenangan ini di tengah derasnya arus perbandingan? Jawabannya ada pada pembinaan hati (mahabbah) dan istiqomah dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Ketika hati dipenuhi cinta kepada Rasulullah SAW melalui sholawat, dan jiwa disirami dengan cahaya Al-Qur'an melalui tadarus, pandangan kita terhadap dunia akan berubah. Fokus kita bergeser dari apa yang orang lain miliki, menuju apa yang Allah SWT telah anugerahkan kepada kita, dan bagaimana kita bisa terus mendekat kepada-Nya. Sholawat tanpa syarat adalah ekspresi cinta murni yang memurnikan hati dari kotoran iri, sedangkan tadarus Al-Qur'an adalah lentera yang menerangi jalan menuju pemahaman akan hikmah ilahi.

Gabung pejuang istiqomah: Bersama komunitas AlFatihRPS, mari rutin setor sholawat dan menyempatkan tadarus Al-Qur'an — klik di sini untuk mulai setor sholawat atau baca Al-Qur'an bersama.

Bagikan Artikel
Arsip Bacaan

Jelajahi tulisan lainnya

18 pilihan
Kenapa Allah SWT Memerintahkan Tasbih Pagi-Petang Saat Rasulullah SAW Dicaci?
Muamalah & Sosial

Kenapa Allah SWT Memerintahkan Tasbih Pagi-Petang Saat Rasulullah SAW Dicaci?

03 Nov 2026
Sabar yang Tetap Menangis: Membaca Shabrun Jamil Nabi Ya'qub
Muamalah & Sosial

Sabar yang Tetap Menangis: Membaca Shabrun Jamil Nabi Ya'qub

03 Nov 2026
Apa Itu Ayat Tematik, dan Kenapa Satu Ayat Saja Bisa Menyesatkan Hati?
Muamalah & Sosial

Apa Itu Ayat Tematik, dan Kenapa Satu Ayat Saja Bisa Menyesatkan Hati?

02 Nov 2026
Lutut yang Bersentuhan: Adab Menuntut Ilmu yang Hilang di Era Video Pendek
Muamalah & Sosial

Lutut yang Bersentuhan: Adab Menuntut Ilmu yang Hilang di Era Video Pendek

02 Nov 2026
Ketika Amal Mencari Penonton: Membaca Riya Lewat Kacamata Al-Ghazali
Muamalah & Sosial

Ketika Amal Mencari Penonton: Membaca Riya Lewat Kacamata Al-Ghazali

01 Nov 2026
Doa untuk Orang Tua yang Sudah Meninggal Latin: Sampaikah ke Alam Kubur?
Muamalah & Sosial

Doa untuk Orang Tua yang Sudah Meninggal Latin: Sampaikah ke Alam Kubur?

01 Nov 2026
Ucapkanlah Perkataan yang Benar: Ketika Menutupi Salah Teman Justru Melukainya
Muamalah & Sosial

Ucapkanlah Perkataan yang Benar: Ketika Menutupi Salah Teman Justru Melukainya

31 Oct 2026
Contoh Ayat Tematik: Apa yang Dirasakan Nabi Saat Wahyu Sempat Tertahan?
Muamalah & Sosial

Contoh Ayat Tematik: Apa yang Dirasakan Nabi Saat Wahyu Sempat Tertahan?

31 Oct 2026
Raja Terkaya dan Hamba Paling Diuji: Mengapa Allah SWT Memuji Keduanya Sama?
Muamalah & Sosial

Raja Terkaya dan Hamba Paling Diuji: Mengapa Allah SWT Memuji Keduanya Sama?

30 Oct 2026
Ayat Tematik Adalah Apa, dan Kenapa Satu Ayat Saja Bisa Membuat Kita Keliru?
Muamalah & Sosial

Ayat Tematik Adalah Apa, dan Kenapa Satu Ayat Saja Bisa Membuat Kita Keliru?

29 Oct 2026
Afat Artinya Apa? Konsep Āfāt al-Lisān Al-Ghazali yang Dekat dengan Hidup Kita
Muamalah & Sosial

Afat Artinya Apa? Konsep Āfāt al-Lisān Al-Ghazali yang Dekat dengan Hidup Kita

29 Oct 2026
Ayat Tematik dari Al-Qur'an Pendek: Kenapa yang Ringkas Paling Lama Menetap?
Muamalah & Sosial

Ayat Tematik dari Al-Qur'an Pendek: Kenapa yang Ringkas Paling Lama Menetap?

28 Oct 2026
Kenapa Sulit Menghafal Ayat Tematik dari Alquran dan Mampu Menjelaskannya?
Muamalah & Sosial

Kenapa Sulit Menghafal Ayat Tematik dari Alquran dan Mampu Menjelaskannya?

28 Oct 2026
Dapat Menghafal Ayat Tematik dari Alquran dan Mampu Menjelaskannya—Cukupkah?
Muamalah & Sosial

Dapat Menghafal Ayat Tematik dari Alquran dan Mampu Menjelaskannya—Cukupkah?

27 Oct 2026
Kenapa Nabi Tenang di Atas Tikar Kasar, Sementara Kita Gelisah di Kasur Empuk?
Muamalah & Sosial

Kenapa Nabi Tenang di Atas Tikar Kasar, Sementara Kita Gelisah di Kasur Empuk?

27 Oct 2026
Apa Itu Ayat Tematik, dan Kenapa Satu Ayat Saja Bisa Membuat Hati Salah Paham?
Muamalah & Sosial

Apa Itu Ayat Tematik, dan Kenapa Satu Ayat Saja Bisa Membuat Hati Salah Paham?

26 Oct 2026
Contoh Ayat Tematik tentang Duka: Mengapa Ya'qub Hanya Mengadu kepada Allah SWT?
Muamalah & Sosial

Contoh Ayat Tematik tentang Duka: Mengapa Ya'qub Hanya Mengadu kepada Allah SWT?

23 Oct 2026
Kenapa Obrolan Paling Nikmat Justru yang Paling Diam-diam Menguras Pahala?
Muamalah & Sosial

Kenapa Obrolan Paling Nikmat Justru yang Paling Diam-diam Menguras Pahala?

23 Oct 2026
Disclaimer

Catatan penggunaan rujukan AlFatihRPS

Artikel di AlFatihRPS disusun sebagai bahan bacaan, pengingat, dan pintu awal menuju kajian yang lebih tertib. Untuk keputusan hukum, fatwa, atau kajian akademis mendalam, pembaca tetap dianjurkan mencocokkan dalil dan penjelasan dengan guru, pembimbing, atau sumber primer yang terpercaya.

Home Doa Kategori Member

Pilih Kategori

Navigasi Artikel

Memuat aktivitas ibadah… ›
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
Allahumma shalli 'alaa sayyidina Muhammad
Setor Sholawat

Setiap bilangan yang Anda tulis menjadi saksi cinta kepada Baginda Nabi SAW. Isikan jumlahnya, lalu kirim — Anda diminta masuk sebentar agar amalan tercatat.