Renungan Mahabbah Rujukan Redaksi

Mengapa Hati Sering Melayang Saat Tarawih? Menyelami Khusyuk ala Al-Ghazali

Pernahkah kamu merasa, di tengah riuhnya shaf Tarawih yang panjang, pikiranmu justru sibuk melayang ke daftar utang, deadline pekerjaan, atau obrolan grup Whats...

Mengapa Hati Sering Melayang Saat Tarawih? Menyelami Khusyuk ala Al-Ghazali
Himbauan redaksi

Artikel ini disusun sebagai bahan bacaan dan rujukan awal. Untuk kajian akademis, pembaca disarankan mencocokkan dalil, kutipan, dan istilah dengan sumber primer atau pembimbing keilmuan yang terpercaya.

Pernahkah kamu merasa, di tengah riuhnya shaf Tarawih yang panjang, pikiranmu justru sibuk melayang ke daftar utang, deadline pekerjaan, atau obrolan grup WhatsApp yang belum sempat terbaca? Rasanya baru saja takbiratul ihram, namun di rakaat ketiga, benak sudah berkelana jauh entah ke mana. Ada rasa bersalah, keinginan untuk fokus, tapi seolah ada magnet yang menarik hati menjauh dari kehadiran-Nya.

Kelelahan batin setelah seharian bekerja atau mengurus rumah tangga seringkali menjadi pemicu. Kita mendambakan ketenangan dan koneksi spiritual di bulan Ramadhan, namun realitas hidup modern dengan segala bebannya kerap menjadi tembok penghalang. Sholat yang seharusnya menjadi oase justru terasa sebagai rutinitas yang ingin cepat diselesaikan. Lantas, bagaimana kita bisa merajut kembali hati yang terpecah itu agar khusyuk bukan lagi sekadar janji, melainkan sebuah pengalaman yang hidup?

Khusyuk: Bukan Sekadar Diam, Tapi Hadirnya Hati

Imam Al-Ghazali, dalam mahakaryanya Ihya' Ulumuddin, mengajarkan bahwa khusyuk bukanlah semata-mata ketenangan fisik atau menahan pandangan. Lebih dari itu, khusyuk adalah hadirnya hati (hudhur al-qalb) bersama Allah SAW, disertai dengan pemahaman akan makna bacaan sholat, serta penghayatan akan keagungan-Nya. Beliau menjelaskan bahwa hati yang khusyuk adalah hati yang terbebas dari segala bisikan duniawi, fokus pada munajat kepada Sang Pencipta. Ini bukan perkara mudah, apalagi di tengah hiruk pikuk kehidupan yang terus menuntut perhatian.

Allah SWT sendiri berfirman dalam Al-Qur'an:

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ ۝ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ

Artinya: "Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam sholatnya." (QS. Al-Mu'minun: 1-2)

Ayat ini menunjukkan bahwa khusyuk adalah inti dari keberuntungan seorang mukmin. Namun, seringkali kita salah kaprah, mengira khusyuk itu hanya bisa dicapai oleh para sufi atau mereka yang tak punya beban hidup. Padahal, khusyuk adalah perjalanan, bukan tujuan instan. Ia adalah upaya terus-menerus untuk menarik kembali hati yang melayang, setiap kali ia pergi.

Baca Juga
Jempol yang Menekan Kirim: Adab yang Hilang di Balik Layar

Jempol yang Menekan Kirim: Adab yang Hilang di Balik Layar

Merajut Hati Melalui Mujahadah dan Mahabbah

Lalu, bagaimana praktiknya bagi kita yang masih bergulat dengan realitas hidup? Imam Ibnu Athaillah Al-Sakandari dalam Al-Hikam berpesan, “Janganlah engkau mencela dirimu karena tidak adanya khusyuk dalam sholatmu, tetapi celalah dirimu karena tidak adanya keinginanmu untuk khusyuk.” Ini adalah titik tolak yang penting: mengakui perjuangan, namun tidak menyerah pada keputusasaan. Langkah pertama adalah niat yang kuat dan kesadaran bahwa sholat adalah momen pribadi kita dengan Allah SWT, bukan hanya kewajiban yang harus digugurkan.

Rasulullah SAW sendiri bersabda:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

Artinya: "Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan." (HR. Bukhari dan Muslim)

Niat yang tulus untuk hadir seutuhnya dalam sholat, meskipun seringkali gagal, adalah bentuk mujahadah (perjuangan sungguh-sungguh) yang dicintai Allah SWT. Ini juga tentang menumbuhkan mahabbah (cinta) kepada-Nya dan kepada Rasulullah SAW. Ketika hati dipenuhi cinta, ia akan lebih mudah terpaut pada Dzat yang dicintai. Sholawat yang kita lantunkan setiap hari, tadarus Al-Qur'an yang kita baca, semua itu adalah pupuk bagi mahabbah, yang pada gilirannya akan memudahkan hati untuk khusyuk dalam setiap ibadah.

Mungkin kita tidak bisa serta merta menjadi khusyuk sempurna. Namun, setiap Tarawih yang kita jalani dengan kesadaran penuh akan kehadiran Allah SWT, setiap upaya untuk menarik kembali pikiran yang melayang, adalah langkah kecil menuju kedekatan. Ini adalah proses pembinaan hati yang berkelanjutan, tanpa tekanan, tanpa janji berlebihan. Biarkan cinta kepada Rasulullah SAW menjadi jembatan menuju khusyuk yang hakiki, yang menenangkan jiwa dan melapangkan dada dari segala beban dunia.

Gabung pejuang istiqomah: Bersama komunitas AlFatihRPS, mari rutin setor sholawat dan menyempatkan tadarus Al-Qur'an — klik di sini untuk mulai setor sholawat atau baca Al-Qur'an bersama.

Bagikan Artikel
Arsip Bacaan

Jelajahi tulisan lainnya

18 pilihan
Malaikat yang Nyaris Membuat Tetangga Jadi Ahli Waris
Renungan Mahabbah

Malaikat yang Nyaris Membuat Tetangga Jadi Ahli Waris

04 Sep 2026
Nabi Menyebut Hilangnya Kesulitan, Bukan Balasan: Apa Bedanya?
Renungan Mahabbah

Nabi Menyebut Hilangnya Kesulitan, Bukan Balasan: Apa Bedanya?

04 Sep 2026
Kita Kira Sabar Itu Diam. Tapi Nabi Ayyub Mengajarkan Sebaliknya
Renungan Mahabbah

Kita Kira Sabar Itu Diam. Tapi Nabi Ayyub Mengajarkan Sebaliknya

03 Sep 2026
Doa yang Ditolak Cepat: Pelajaran Adab dari Sebuah Kesalahan di Masjid Nabawi
Renungan Mahabbah

Doa yang Ditolak Cepat: Pelajaran Adab dari Sebuah Kesalahan di Masjid Nabawi

03 Sep 2026
Doa untuk Orang Tua yang Sudah Meninggal dan yang Sakit (Arab, Latin, Arti)
Renungan Mahabbah

Doa untuk Orang Tua yang Sudah Meninggal dan yang Sakit (Arab, Latin, Arti)

03 Sep 2026
Dzikir Pagi dan Petang Sesuai Sunnah: Arab, Latin, dan Artinya
Renungan Mahabbah

Dzikir Pagi dan Petang Sesuai Sunnah: Arab, Latin, dan Artinya

03 Sep 2026
Ketika Diludahi Setiap Hari: Rahasia di Balik Diamnya Nabi
Renungan Mahabbah

Ketika Diludahi Setiap Hari: Rahasia di Balik Diamnya Nabi

02 Sep 2026
Sabar Tanpa Syukur, Syukur Tanpa Sabar: Kenapa Keduanya Timpang?
Renungan Mahabbah

Sabar Tanpa Syukur, Syukur Tanpa Sabar: Kenapa Keduanya Timpang?

02 Sep 2026
Gabut? Ini Amalan & Dzikir Ringan yang Berpahala Besar
Renungan Mahabbah

Gabut? Ini Amalan & Dzikir Ringan yang Berpahala Besar

01 Sep 2026
Jangan Putus Asa: Doa & Sholawat Ketika Lelah dan Hidup Terasa Berat
Renungan Mahabbah

Jangan Putus Asa: Doa & Sholawat Ketika Lelah dan Hidup Terasa Berat

01 Sep 2026
Doa Penenang Hati yang Gelisah Ketika Ada Masalah (Arab, Latin, Arti)
Renungan Mahabbah

Doa Penenang Hati yang Gelisah Ketika Ada Masalah (Arab, Latin, Arti)

01 Sep 2026
Keutamaan Sholawat kepada Nabi Muhammad SAW: Dalil & Manfaatnya
Renungan Mahabbah

Keutamaan Sholawat kepada Nabi Muhammad SAW: Dalil & Manfaatnya

01 Sep 2026
Kenapa Semakin Banyak yang Dimiliki, Hati Justru Makin Kosong?
Renungan Mahabbah

Kenapa Semakin Banyak yang Dimiliki, Hati Justru Makin Kosong?

01 Sep 2026
Kita Kira Al-Qur'an Cuma Dibaca. Ternyata Ia Ingin Menemani
Renungan Mahabbah

Kita Kira Al-Qur'an Cuma Dibaca. Ternyata Ia Ingin Menemani

01 Sep 2026
Sholawat Badar: Teks, Sejarah, dan Keutamaannya
Renungan Mahabbah

Sholawat Badar: Teks, Sejarah, dan Keutamaannya

01 Sep 2026
Sholawat Tibbil Qulub: Teks, Makna, dan Keutamaannya
Renungan Mahabbah

Sholawat Tibbil Qulub: Teks, Makna, dan Keutamaannya

01 Sep 2026
Sholawat Munjiyat: Teks, Kisah, dan Keutamaannya
Renungan Mahabbah

Sholawat Munjiyat: Teks, Kisah, dan Keutamaannya

01 Sep 2026
Sholawat Al-Fatih: Teks, Sejarah, dan Keutamaannya
Renungan Mahabbah

Sholawat Al-Fatih: Teks, Sejarah, dan Keutamaannya

01 Sep 2026
Disclaimer

Catatan penggunaan rujukan AlFatihRPS

Artikel di AlFatihRPS disusun sebagai bahan bacaan, pengingat, dan pintu awal menuju kajian yang lebih tertib. Untuk keputusan hukum, fatwa, atau kajian akademis mendalam, pembaca tetap dianjurkan mencocokkan dalil dan penjelasan dengan guru, pembimbing, atau sumber primer yang terpercaya.

Home Doa Kategori Member

Pilih Kategori

Navigasi Artikel

Memuat aktivitas ibadah…