Renungan Mahabbah Rujukan Redaksi

Mengapa Hati Kerap Merasa Lebih Tinggi dari Sesama?

Pernahkah kamu pulang dari sebuah acara, entah reuni keluarga atau pertemuan komunitas, dengan perasaan campur aduk? Ada rasa lelah yang bukan fisik, tapi batin...

Mengapa Hati Kerap Merasa Lebih Tinggi dari Sesama?
Himbauan redaksi

Artikel ini disusun sebagai bahan bacaan dan rujukan awal. Untuk kajian akademis, pembaca disarankan mencocokkan dalil, kutipan, dan istilah dengan sumber primer atau pembimbing keilmuan yang terpercaya.

Pernahkah kamu pulang dari sebuah acara, entah reuni keluarga atau pertemuan komunitas, dengan perasaan campur aduk? Ada rasa lelah yang bukan fisik, tapi batin. Mungkin karena diam-diam kamu membandingkan diri dengan pencapaian orang lain, atau tanpa sadar, ada bisikan halus di hati yang menilai rendah orang yang 'tidak selevel' denganmu. Perasaan ini, seringkali tak terucap, namun menggerogoti ketenangan dan merenggangkan benang ukhuwah.

Keresahan semacam ini bukan hal baru. Sejak zaman dahulu, para ulama tasawuf telah memperingatkan bahaya penyakit hati yang satu ini: merasa diri lebih baik dari orang lain. Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin banyak mengupas tentang 'ujub (kagum pada diri sendiri) dan takabbur (sombong) sebagai hijab antara hamba dengan Tuhannya, juga antara hamba dengan sesamanya. Penyakit ini membuat kita lupa bahwa kemuliaan sejati bukan pada jabatan, kekayaan, atau gelar, melainkan pada ketakwaan dan kebersihan hati.

Allah SWT sendiri telah melarang keras sikap merendahkan sesama. Dalam firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰ أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِّن نِّسَاءٍ عَسَىٰ أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Hujurat: 11)

Ayat ini adalah pengingat tegas bahwa kita tidak pernah tahu hakikat seseorang di mata Allah. Status duniawi hanyalah ujian dan titipan, bukan penentu nilai seorang hamba. Justru, sikap merendahkan orang lain adalah cerminan dari kesombongan, sebuah penyakit hati yang sangat dibenci. Rasulullah ﷺ bersabda:

Baca Juga

Paradoks 'Indonesia Bangkit': Antara Optimisme Angka dan Kelelahan Jiwa

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ

“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan seberat biji sawi.” (HR. Muslim)

Hadits ini menohok jiwa kita. Bagaimana mungkin kita bisa berharap surga jika hati masih menyimpan setitik kesombongan, termasuk dalam bentuk merendahkan orang lain? Para ulama seperti Ibnu 'Athaillah As-Sakandari dalam Al-Hikam mengajarkan pentingnya memandang setiap makhluk dengan pandangan kasih sayang dan tawadhu'. Setiap orang memiliki potensi kebaikan dan rahasia hubungan dengan Tuhannya yang kita tidak ketahui. Dengan menahan diri dari menghakimi dan merendahkan, kita membuka pintu mahabbah dan ukhuwah sejati, sebagaimana yang diajarkan oleh baginda Nabi ﷺ.

Maka, mari kita rawat hati ini dari bisikan kesombongan dan perasaan tinggi diri. Mari kita belajar memandang sesama bukan dari kacamata status duniawi, melainkan dari lensa kemanusiaan dan persaudaraan. Ini adalah langkah kecil namun konsisten untuk membangun hati yang lebih bersih, lebih dekat kepada Allah, dan lebih mencintai Rasulullah ﷺ.

Bergabung sebagai pejuang: Belajar istiqomah bersama di member.alfatihrps.com — sholawat tanpa syarat, ukhuwah tanpa batas.

Bagikan Artikel
Arsip Bacaan

Jelajahi tulisan lainnya

18 pilihan
Renungan Mahabbah

Ketika Panji Agama Jadi Topeng: Mengapa Hati Tetap Terluka Meski Janji Suci Diucap?

05 Jul 2026
Renungan Mahabbah

Ketika Kesedihan Tak Berujung Justru Membuka Pintu Hikmah?

04 Jul 2026
Renungan Mahabbah

Lumbung Pangan dari Penjara: Menguak Hikmah Pengelolaan Krisis ala Nabi Yusuf

01 Jul 2026
Renungan Mahabbah

Ketika Memilih Mundur Justru Menyelamatkan Iman: Belajar dari Ashabul Kahfi

01 Jul 2026
Renungan Mahabbah

Ketika Iman Menuntut Jeda: Hikmah Uzlah Ashabul Kahfi di Tengah Bising Dunia

01 Jul 2026
Renungan Mahabbah

Ashabul Kahfi: Mundur untuk Maju dalam Iman

01 Jul 2026
Renungan Mahabbah

Ketika Gelar 'Istri Sholehah' Terasa Beban: Menyelami Makna Sejati dalam Hikmah Tasawuf

01 Jul 2026
Renungan Mahabbah

Ketika Lingkungan Meracuni Iman: Beranikah Kita Memilih Mundur Seperti Ashabul Kahfi?

01 Jul 2026
Renungan Mahabbah

Ketika Mundur Adalah Kekuatan: Hikmah Ashabul Kahfi di Tengah Keriuhan Modern

01 Jul 2026
Renungan Mahabbah

Dari Penjara ke Lumbung Pangan: Bagaimana Krisis Menjadi Pintu Hikmah Nabi Yusuf?

01 Jul 2026
Renungan Mahabbah

Nabi Yunus: Ketika Seorang Nabi Merasa Pergi Sebelum Waktunya

01 Jul 2026
Renungan Mahabbah

Bisakah Kita Memaafkan Mereka yang Pernah Menghancurkan Hidup Kita?

01 Jul 2026
Renungan Mahabbah

Debat Satu Kalimat: Ketika Kebenaran Tak Mampu Menggerakkan Hati

01 Jul 2026
Renungan Mahabbah

Ketika Kesabaran Berbicara: Mengapa Nabi Ayyub Tak Pernah Mengeluh pada Manusia?

01 Jul 2026
Renungan Mahabbah

Qarun: Mengapa Kekayaan Justru Menelan Pemiliknya?

01 Jul 2026
Renungan Mahabbah

Dakwah Nabi Luth: Mengapa Hati Tetap Tegar Meski Tak Ada yang Berubah?

01 Jul 2026
Renungan Mahabbah

Raja Terbesar yang Tak Pernah Sombong: Amanah Kekuasaan Nabi Sulaiman

01 Jul 2026
Renungan Mahabbah

Kisah Ifk: Ketika Fitnah Merobek Batin, Bagaimana Hati Tetap Teguh?

01 Jul 2026
Disclaimer

Catatan penggunaan rujukan AlFatihRPS

Artikel di AlFatihRPS disusun sebagai bahan bacaan, pengingat, dan pintu awal menuju kajian yang lebih tertib. Untuk keputusan hukum, fatwa, atau kajian akademis mendalam, pembaca tetap dianjurkan mencocokkan dalil dan penjelasan dengan guru, pembimbing, atau sumber primer yang terpercaya.

Home Doa Kategori Al-Qur'an Member

Pilih Kategori

Navigasi Artikel

AKTIVITAS JAMAAH baru saja
Memuat...

Live Statistik

Realtime
Sholawat Hari Ini ...
Khatam Quran ...
Jadwal Sholat Sidoarjo --
SUBUH
--:--
DZUHUR
--:--
ASHAR
--:--
MAGHRIB
--:--
ISYA
--:--
Logo AlFatihRPS

Instal Portal AlFatihRPS

Pasang aplikasi untuk akses cepat artikel, komunitas, dan fitur lainnya langsung dari HP Anda.