Himbauan redaksi
Artikel ini disusun sebagai bahan bacaan dan rujukan awal. Untuk kajian akademis, pembaca disarankan mencocokkan dalil, kutipan, dan istilah dengan sumber primer atau pembimbing keilmuan yang terpercaya.
Pernahkah matamu terasa perih dan pandangan buram, padahal jam dinding baru menunjukkan pukul sepuluh malam, dan layar ponsel masih setia menyala di genggaman? Atau mungkin, setelah seharian menatap monitor di kantor, tiba di rumah, yang dicari pertama justru televisi atau gawai, seolah tak ada jeda bagi indra penglihatan kita. Kelelahan ini bukan sekadar sensasi fisik; ia merambat, menggerogoti fokus, menumpulkan kepekaan, bahkan kadang membuat hati ikut terasa gersang.
Kita seringkali lupa, mata adalah salah satu amanah terbesar dari Allah SWT. Dengannya kita menyaksikan kebesaran-Nya di alam semesta, membaca ayat-ayat-Nya, dan menatap wajah orang-orang yang kita cintai. Namun, di tengah banjir informasi dan hiburan digital, amanah ini seringkali kita abaikan, bahkan kita eksploitasi hingga batasnya. Bukan hanya kesehatan fisik mata yang terancam, melainkan juga kesehatan batin kita, sebab apa yang kita lihat akan memengaruhi apa yang kita rasakan dan pikirkan.
Imam Al-Ghazali, dalam mahakaryanya Ihya' Ulumuddin, berulang kali menekankan pentingnya hifzh al-hawas atau menjaga indra. Bagi beliau, mata adalah gerbang utama menuju hati. Apa yang masuk melalui mata akan membentuk persepsi, memicu emosi, dan pada akhirnya memengaruhi kondisi spiritual seseorang. Jika gerbang ini terus-menerus dibanjiri tayangan yang melenakan, informasi yang tak berguna, atau bahkan hal-hal yang tidak selayaknya dilihat, maka hati akan sulit menemukan ketenangan dan kejernihan untuk berzikir, merenung, apalagi mendekat kepada Ilahi.
Rasulullah ﷺ sendiri telah mengingatkan kita tentang pentingnya menjaga nikmat kesehatan. Beliau bersabda:
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
(Dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalamnya, yaitu kesehatan dan waktu luang.) (HR. Tirmidzi). Kesehatan mata adalah bagian tak terpisahkan dari nikmat kesehatan yang seringkali baru kita sadari nilainya saat ia mulai menurun. Penggunaan gawai yang berlebihan, tanpa jeda dan tanpa batasan, adalah bentuk ketertipuan kita terhadap nikmat ini, mengorbankan penglihatan demi kesenangan sesaat.
Baca JugaTerjebak Lingkaran Cicilan? Begini Cara Qana'ah Membebaskan Hati
Maka, bagaimana kita bisa menunaikan amanah ini dengan baik? Bukan berarti kita harus menolak teknologi, melainkan kembali kepada prinsip keseimbangan dan kesadaran. Luangkan waktu untuk mengistirahatkan mata, alihkan pandangan ke alam, atau tataplah Mushaf Al-Qur'an dengan penuh kekhusyukan. Allah SWT mengingatkan kita bahwa setiap indra akan dimintai pertanggungjawaban:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
(Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.) (QS. Al-Isra: 36). Ayat ini bukan hanya peringatan, melainkan juga undangan untuk lebih bijak dalam menggunakan anugerah penglihatan.
Menjaga kesehatan mata adalah bagian dari menjaga diri, menjaga hati, agar kita mampu melihat keindahan dunia dan akhirat dengan lebih jernih. Ini adalah langkah kecil istiqomah yang, jika diniatkan karena Allah dan cinta Rasulullah ﷺ, akan menjadi ibadah. Dengan mata yang sehat dan hati yang tenang, kita bisa lebih khusyuk dalam sholawat, lebih fokus dalam tadarus Al-Qur'an, dan lebih peka terhadap isyarat-isyarat kebesaran Ilahi di sekitar kita.
Gabung pejuang istiqomah: Bersama komunitas AlFatihRPS, mari rutin setor sholawat dan menyempatkan tadarus Al-Qur'an — klik di sini untuk mulai setor sholawat atau baca Al-Qur'an bersama.