Himbauan redaksi
Artikel ini disusun sebagai bahan bacaan dan rujukan awal. Untuk kajian akademis, pembaca disarankan mencocokkan dalil, kutipan, dan istilah dengan sumber primer atau pembimbing keilmuan yang terpercaya.
Pernahkah Anda merasa sedikit canggung atau bingung saat sholat subuh di masjid yang berbeda, lalu imamnya tiba-tiba mengangkat tangan untuk qunut, sementara di masjid lain yang biasa Anda datangi tidak? Atau mungkin, di tengah obrolan keluarga, perbedaan pandangan tentang qunut subuh ini muncul, dan tanpa sadar hati jadi sedikit ganjil, bertanya-tanya “mana yang paling benar?” Keresahan semacam ini wajar. Ia muncul dari keinginan tulus kita untuk beribadah sesuai tuntunan terbaik, namun seringkali justru membebani batin dengan keraguan atau, lebih jauh lagi, memicu perdebatan yang tak berujung.
Keresahan ini, jika tidak disikapi dengan bijak, bisa mengikis kedamaian hati dan bahkan merenggangkan ukhuwah. Padahal, tradisi keilmuan Islam yang muktabar telah lama mengajarkan kita tentang adab menyikapi perbedaan pendapat atau khilafiyah, khususnya dalam persoalan cabang (furu') seperti qunut subuh. Para ulama terdahulu, dengan keluasan ilmu dan kebersihan hati mereka, menunjukkan jalan yang justru memperkaya, bukan memecah belah. Mereka memahami bahwa perbedaan interpretasi terhadap dalil adalah keniscayaan dalam setiap tradisi keilmuan yang hidup dan berkembang.
Imam Asy-Syafi'i, salah satu pilar mazhab fiqih yang banyak diikuti umat Islam, dikenal sebagai ulama yang mengamalkan qunut subuh. Namun, beliau juga diriwayatkan pernah sholat di belakang imam yang tidak qunut dan tidak mengulangi sholatnya. Ini adalah cerminan adab yang luar biasa: menghormati pilihan ijtihad orang lain, bahkan jika berbeda dengan pandangan pribadi. Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin banyak menekankan pentingnya membersihkan hati dari sifat takabur dan merasa paling benar. Bagi beliau, fokus utama adalah kehadiran hati dalam ibadah (hudhurul qalb) dan keikhlasan, bukan pada detail-detail furu' yang bisa menjadi sumber perpecahan jika disikapi dengan keangkuhan.
Allah Subhanahu wa Ta'ala sendiri mengingatkan kita untuk kembali kepada-Nya dan Rasul-Nya bila terjadi perselisihan.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ ۖ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
(
“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berselisih tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur'an) dan Rasul (sunahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” – QS. An-Nisa: 59). Ayat ini tidak memerintahkan kita untuk memaksakan satu pendapat, melainkan untuk merujuk pada sumber utama dengan adab, dan menerima keluasan rahmat-Nya dalam interpretasi yang sah.
Baca JugaGersangnya Hati di Mushola yang Berdebu: Hikmah Thaharah dalam Ihya' Ulumuddin
Bahkan, perdebatan yang berlebihan tentang perbedaan furu' justru bisa menjauhkan kita dari inti ajaran Islam: yaitu mahabbah kepada Allah dan Rasul-Nya, serta ukhuwah sesama muslim. Rasulullah ﷺ bersabda,
مَا ضَلَّ قَوْمٌ بَعْدَ هُدًى كَانُوا عَلَيْهِ إِلَّا أُوتُوا الْجَدَلَ
(
“Tidaklah suatu kaum tersesat setelah mendapat petunjuk melainkan karena mereka gemar berdebat.” – HR. Tirmidzi). Hadits ini bukan melarang diskusi ilmiah, melainkan mengingatkan kita akan bahaya perdebatan kusir yang hanya menuruti hawa nafsu dan berujung pada perpecahan, bukan pencerahan. Fokuslah pada apa yang menyatukan kita, yakni cinta kepada Rasulullah ﷺ dan semangat untuk istiqomah dalam ibadah.
Maka, daripada membiarkan perbedaan dalam qunut subuh menjadi beban hati atau pemicu perpecahan, mari kita jadikan ia sebagai ladang untuk menumbuhkan adab, lapang dada, dan mahabbah. Hargai setiap muslim yang berijtihad dengan ilmunya, baik yang mengamalkan qunut maupun tidak. Sebab, inti dari ibadah kita adalah ketulusan dan ketaatan kepada Allah, yang manifestasinya bisa beragam dalam batas-batas syariat. Inilah hikmah yang akan membawa kedamaian dalam hati dan menguatkan persaudaraan kita.
Gabung pejuang istiqomah: Bersama komunitas AlFatihRPS, mari rutin setor sholawat dan menyempatkan tadarus Al-Qur'an — klik di sini untuk mulai setor sholawat atau baca Al-Qur'an bersama.