Himbauan redaksi
Artikel ini disusun sebagai bahan bacaan dan rujukan awal. Untuk kajian akademis, pembaca disarankan mencocokkan dalil, kutipan, dan istilah dengan sumber primer atau pembimbing keilmuan yang terpercaya.
Seringkali, setelah seharian berjibaku dengan deadline, macet, dan hiruk pikuk tuntutan hidup, tubuh terasa remuk. Belum lagi pikiran yang tak henti memutar kekhawatiran: cicilan bulan depan, masa depan anak, atau sekadar lelah batin yang tak terdefinisi. Di tengah semua itu, kita ingin mendekat pada-Nya, memilih jalan sunnah, seperti puasa Senin-Kamis atau Ayyamul Bidh. Niatnya mulia, tapi kadang justru berakhir dengan tubuh yang semakin drop, semangat ibadah yang kendor, dan pertanyaan: apakah ibadah ini malah memberatkan, bukan meringankan?
Dalil
Allah berfirman:
وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا
Artinya: Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. (QS. At-Talaq: 2)
Rasulullah ﷺ bersabda:
أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
Artinya: Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang istiqomah, meskipun sedikit. (HR. Bukhari dan Muslim)
Baca JugaGersangnya Hati di Mushola yang Berdebu: Hikmah Thaharah dalam Ihya' Ulumuddin
Keresahan semacam ini bukan hal aneh. Dalam semangat mengejar keutamaan, tak jarang kita lupa bahwa Islam adalah agama yang mengedepankan keseimbangan (wasathiyah). Puasa sunnah, sejatinya adalah sarana pembinaan hati, laku spiritual untuk mendekatkan diri pada Sang Pencipta dan meneladani Rasulullah ﷺ, bukan ajang untuk menyiksa diri hingga melalaikan hak-hak tubuh. Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin dengan tegas mengingatkan bahwa menjaga kesehatan fisik adalah bagian integral dari menjaga agama, sebab tubuh adalah kendaraan bagi ruh untuk beribadah dan meraih ilmu.
Allah SWT sendiri telah menegaskan prinsip kemudahan dalam setiap syariat-Nya. Ia tidak pernah menghendaki kesulitan bagi hamba-Nya, melainkan kemudahan agar ibadah terasa ringan dan penuh sukacita, bukan beban yang menekan. Firman-Nya:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah. Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang ditinggalkannya itu) pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 185)
Prinsip ini juga tercermin dalam teladan Rasulullah ﷺ. Beliau tidak pernah membiarkan sahabatnya membebani diri secara berlebihan dalam ibadah. Bahkan, beliau bersabda, “Sesungguhnya pada tubuhmu ada hak, pada matamu ada hak, pada istrimu ada hak, dan pada tamumu ada hak.” (HR. Bukhari). Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam Zadul Ma'ad menjelaskan bahwa menjaga kesehatan fisik adalah fondasi agar seseorang dapat melaksanakan ibadah dengan optimal, bukan hanya sekadar sah secara fiqih, melainkan juga berkualitas secara ruhani. Puasa yang disertai kelelahan ekstrem justru bisa mengurangi khusyuk dan makna mahabbah yang ingin dicapai.
Maka, jika kita memilih jalan puasa sunnah, pastikan ia menjadi pengisi energi spiritual, bukan penguras fisik. Perhatikan asupan saat sahur dan berbuka: pilih makanan yang bergizi seimbang, bukan sekadar kenyang. Cukupi kebutuhan cairan, dan berikan tubuh waktu istirahat yang memadai. Mendengarkan isyarat tubuh adalah bentuk syukur dan menjaga amanah. Dengan begitu, puasa sunnah akan menjadi ibadah yang menenangkan, menyehatkan, dan memperkuat mahabbah kita kepada Rasulullah ﷺ, sekaligus meneladani kearifan beliau dalam menjaga keseimbangan hidup.
Gabung pejuang istiqomah: Bersama komunitas AlFatihRPS, mari rutin setor sholawat dan menyempatkan tadarus Al-Qur'an — klik di sini untuk mulai setor sholawat atau baca Al-Qur'an bersama.