Renungan Mahabbah Rujukan Redaksi

Ketika Berkah Lebaran Justru Menjadi Beban: Mengapa Moderasi Itu Hikmah

Pernah nggak, setelah piring ketiga opor dan rendang ludes di hari kedua Lebaran, perut terasa penuh sesak dan rasa kantuk menyerang begitu hebatnya hingga ibad...

Ketika Berkah Lebaran Justru Menjadi Beban: Mengapa Moderasi Itu Hikmah
Himbauan redaksi

Artikel ini disusun sebagai bahan bacaan dan rujukan awal. Untuk kajian akademis, pembaca disarankan mencocokkan dalil, kutipan, dan istilah dengan sumber primer atau pembimbing keilmuan yang terpercaya.

Pernah nggak, setelah piring ketiga opor dan rendang ludes di hari kedua Lebaran, perut terasa penuh sesak dan rasa kantuk menyerang begitu hebatnya hingga ibadah pun terasa berat? Atau, setelah seminggu penuh santapan kaya rempah dan manis-manisan, tubuh malah terasa lesu, pikiran kurang jernih, dan semangat untuk kembali beraktivitas seolah menguap begitu saja?

Momen Lebaran, yang seharusnya menjadi puncak syukur dan kebahagiaan, tak jarang justru berakhir dengan kelelahan fisik dan mental akibat pola makan berlebihan. Rasa gembira karena hidangan melimpah berganti dengan beban di perut dan hati yang sulit diajak berkompromi untuk berzikir atau tadarus. Ini bukan sekadar masalah fisik semata, melainkan cermin dari bagaimana nafsu, jika tak dikendalikan, bisa merenggut ketenangan batin dan mengurangi kualitas ibadah kita.

Dalam pandangan tasawuf, tubuh adalah kendaraan bagi ruh menuju Allah SWT. Jika kendaraan ini kelebihan muatan atau tidak terawat, bagaimana mungkin ia bisa menempuh perjalanan spiritual dengan baik? Imam Al-Ghazali, dalam mahakaryanya Ihya' Ulumuddin, berulang kali mengingatkan pentingnya mengendalikan nafsu makan sebagai salah satu pintu gerbang menuju penyucian hati. Beliau menjelaskan bahwa perut yang kekenyangan adalah sarang bagi banyak penyakit hati, seperti malas, kantuk yang berlebihan, hingga tumpulnya akal dan hikmah.

Allah Subhanahu wa Ta'ala sendiri telah berfirman dalam Al-Qur'an, menyeru kita pada keseimbangan:

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

Artinya: "Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan." (QS. Al-A'raf: 31). Ayat ini bukan hanya anjuran kesehatan fisik, melainkan fondasi spiritual untuk hidup yang seimbang dan penuh kesadaran. Berlebihan dalam segala hal, termasuk makan, adalah bentuk ketidakmampuan bersyukur yang sejati, sebab kita justru menyalahgunakan nikmat yang diberikan.

Baca Juga
Jempol yang Menekan Kirim: Adab yang Hilang di Balik Layar

Jempol yang Menekan Kirim: Adab yang Hilang di Balik Layar

Rasulullah SAW, teladan kita dalam segala aspek kehidupan, juga mengajarkan moderasi. Beliau bersabda:

مَا مَلأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ، بِحَسْبِ ابْنِ آدَمَ لُقَيْمَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ، فَإِنْ كَانَ لاَ بُدَّ فَاعِلاً فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ، وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ، وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ

Artinya: "Tidaklah anak Adam mengisi suatu wadah yang lebih buruk dari perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap makanan yang dapat menegakkan tulang punggungnya. Jika ia harus mengisinya, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya, dan sepertiga lagi untuk napasnya." (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah). Hadits ini secara gamblang menunjukkan bahwa menjaga perut bukan hanya soal kesehatan, melainkan juga kunci untuk menjaga vitalitas spiritual, agar kita senantiasa siap untuk beribadah dan beraktivitas dengan penuh semangat.

Moderasi bukanlah bentuk penyiksaan diri, melainkan upaya menjaga amanah tubuh dan jiwa agar tetap optimal dalam menjalankan fungsi kehambaan. Ini adalah latihan kesadaran, muraqabah, untuk senantiasa mengingat Allah SWT dalam setiap suapan. Dengan menjaga diri dari berlebihan, kita sebenarnya sedang membangun fondasi istiqomah, baik dalam sholawat, tadarus Al-Qur'an, maupun aktivitas harian lainnya. Hati yang ringan lebih mudah diajak berzikir, tubuh yang sehat lebih bersemangat dalam beramal, dan pikiran yang jernih lebih mudah menerima cahaya hikmah.

Gabung pejuang istiqomah: Bersama komunitas AlFatihRPS, mari rutin setor sholawat dan menyempatkan tadarus Al-Qur'an — klik di sini untuk mulai setor sholawat atau baca Al-Qur'an bersama.

Bagikan Artikel
Arsip Bacaan

Jelajahi tulisan lainnya

18 pilihan
Kita Kira Sabar Itu Diam. Tapi Nabi Ayyub Mengajarkan Sebaliknya
Renungan Mahabbah

Kita Kira Sabar Itu Diam. Tapi Nabi Ayyub Mengajarkan Sebaliknya

03 Sep 2026
Doa yang Ditolak Cepat: Pelajaran Adab dari Sebuah Kesalahan di Masjid Nabawi
Renungan Mahabbah

Doa yang Ditolak Cepat: Pelajaran Adab dari Sebuah Kesalahan di Masjid Nabawi

03 Sep 2026
Doa untuk Orang Tua yang Sudah Meninggal dan yang Sakit (Arab, Latin, Arti)
Renungan Mahabbah

Doa untuk Orang Tua yang Sudah Meninggal dan yang Sakit (Arab, Latin, Arti)

03 Sep 2026
Dzikir Pagi dan Petang Sesuai Sunnah: Arab, Latin, dan Artinya
Renungan Mahabbah

Dzikir Pagi dan Petang Sesuai Sunnah: Arab, Latin, dan Artinya

03 Sep 2026
Ketika Diludahi Setiap Hari: Rahasia di Balik Diamnya Nabi
Renungan Mahabbah

Ketika Diludahi Setiap Hari: Rahasia di Balik Diamnya Nabi

02 Sep 2026
Sabar Tanpa Syukur, Syukur Tanpa Sabar: Kenapa Keduanya Timpang?
Renungan Mahabbah

Sabar Tanpa Syukur, Syukur Tanpa Sabar: Kenapa Keduanya Timpang?

02 Sep 2026
Gabut? Ini Amalan & Dzikir Ringan yang Berpahala Besar
Renungan Mahabbah

Gabut? Ini Amalan & Dzikir Ringan yang Berpahala Besar

01 Sep 2026
Jangan Putus Asa: Doa & Sholawat Ketika Lelah dan Hidup Terasa Berat
Renungan Mahabbah

Jangan Putus Asa: Doa & Sholawat Ketika Lelah dan Hidup Terasa Berat

01 Sep 2026
Doa Penenang Hati yang Gelisah Ketika Ada Masalah (Arab, Latin, Arti)
Renungan Mahabbah

Doa Penenang Hati yang Gelisah Ketika Ada Masalah (Arab, Latin, Arti)

01 Sep 2026
Keutamaan Sholawat kepada Nabi Muhammad SAW: Dalil & Manfaatnya
Renungan Mahabbah

Keutamaan Sholawat kepada Nabi Muhammad SAW: Dalil & Manfaatnya

01 Sep 2026
Kenapa Semakin Banyak yang Dimiliki, Hati Justru Makin Kosong?
Renungan Mahabbah

Kenapa Semakin Banyak yang Dimiliki, Hati Justru Makin Kosong?

01 Sep 2026
Kita Kira Al-Qur'an Cuma Dibaca. Ternyata Ia Ingin Menemani
Renungan Mahabbah

Kita Kira Al-Qur'an Cuma Dibaca. Ternyata Ia Ingin Menemani

01 Sep 2026
Sholawat Badar: Teks, Sejarah, dan Keutamaannya
Renungan Mahabbah

Sholawat Badar: Teks, Sejarah, dan Keutamaannya

01 Sep 2026
Sholawat Tibbil Qulub: Teks, Makna, dan Keutamaannya
Renungan Mahabbah

Sholawat Tibbil Qulub: Teks, Makna, dan Keutamaannya

01 Sep 2026
Sholawat Munjiyat: Teks, Kisah, dan Keutamaannya
Renungan Mahabbah

Sholawat Munjiyat: Teks, Kisah, dan Keutamaannya

01 Sep 2026
Sholawat Al-Fatih: Teks, Sejarah, dan Keutamaannya
Renungan Mahabbah

Sholawat Al-Fatih: Teks, Sejarah, dan Keutamaannya

01 Sep 2026
Sholawat Jibril: Teks, Asal-Usul, dan Keutamaannya
Renungan Mahabbah

Sholawat Jibril: Teks, Asal-Usul, dan Keutamaannya

01 Sep 2026
Sholawat Nariyah: Teks, Sejarah, dan Keutamaannya
Renungan Mahabbah

Sholawat Nariyah: Teks, Sejarah, dan Keutamaannya

01 Sep 2026
Disclaimer

Catatan penggunaan rujukan AlFatihRPS

Artikel di AlFatihRPS disusun sebagai bahan bacaan, pengingat, dan pintu awal menuju kajian yang lebih tertib. Untuk keputusan hukum, fatwa, atau kajian akademis mendalam, pembaca tetap dianjurkan mencocokkan dalil dan penjelasan dengan guru, pembimbing, atau sumber primer yang terpercaya.

Home Doa Kategori Member

Pilih Kategori

Navigasi Artikel

Memuat aktivitas ibadah…