Sudah jam tiga sore, bel sekolah sudah lama berbunyi, tapi bayangan anakmu tak kunjung terlihat di gerbang. Hati mulai mencelos. Pikiran melayang, 'Apakah ia baik-baik saja? Adakah teman yang mengusili lagi hari ini?' Rasa khawatir itu nyata, menggerogoti ketenangan batin setiap orang tua yang anaknya pernah mengalami perundungan. Kita ingin anak kita kuat, tangguh, dan tidak mudah menyerah, tapi bagaimana caranya tanpa mengajarinya membalas dendam yang justru bisa memperburuk keadaan?
Keresahan ini bukan sekadar persoalan fisik, melainkan ujian bagi jiwa orang tua dan anak. Dalam khazanah Islam, kita diajarkan dua pilar fundamental dalam menghadapi ujian semacam ini: hilm (santun, lapang dada, pengendalian emosi) dan sabar (ketabahan). Keduanya bukan berarti pasrah tanpa daya, melainkan kekuatan batin yang teruji, sebagaimana dicontohkan Rasulullah ﷺ dalam setiap ujian hidupnya yang penuh tantangan.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an, membimbing kita pada respons yang lebih tinggi:
وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ۚ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ
(Dan tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, sehingga orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat akrab). (QS. Fussilat: 34). Ayat ini bukan hanya instruksi moral, tetapi strategi psikologis yang mendalam. Imam Al-Ghazali dalam *Ihya' Ulumuddin* menjelaskan bahwa hilm adalah buah dari kesabaran yang disempurnakan oleh akal. Ia adalah kemampuan menahan diri dari amarah dan membalas keburukan dengan kebaikan, bahkan ketika kita memiliki kekuatan untuk membalas.Mengajarkan hilm dan sabar kepada anak bukan berarti membiarkan mereka diinjak-injak. Sebaliknya, ini adalah tentang membekali mereka dengan kekuatan internal untuk tidak terjerumus dalam siklus kebencian dan kekerasan. Rasulullah ﷺ bersabda:
لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
Baca Juga
Terjebak Lingkaran Cicilan? Begini Cara Qana'ah Membebaskan Hati
(Bukanlah orang yang kuat itu yang pandai bergulat, sesungguhnya orang yang kuat itu adalah yang mampu menahan dirinya ketika marah). (HR. Bukhari dan Muslim). Hadits ini mengajarkan bahwa kekuatan sejati terletak pada pengendalian diri, bukan pada kemampuan fisik untuk menyerang balik. Kita melatih anak untuk memahami bahwa respons yang tenang, bijaksana, dan berani melaporkan seringkali lebih efektif dalam melumpuhkan niat buruk perundung, tanpa harus mengorbankan akhlak.Perundungan seringkali tumbuh dari lingkungan yang kurang empati. Dengan menanamkan hilm dan sabar, kita tidak hanya melindungi anak dari dampak negatif perundungan, tetapi juga membentuk mereka menjadi pribadi yang mampu menyebarkan kebaikan dan menjadi agen perubahan. Ini adalah pembinaan hati yang dimulai dari rumah, diperkuat dengan keteladanan, dan didukung oleh lingkungan yang positif. Kita mengajarkan mereka untuk tidak hanya menahan diri dari membalas, tetapi juga untuk memiliki keberanian melaporkan, mencari bantuan, dan berdiri untuk kebenaran, tanpa kehilangan kemuliaan akhlak.
Membangun kekuatan batin semacam ini membutuhkan latihan dan pembinaan hati yang konsisten. Sebagaimana kita mendidik anak untuk kuat secara fisik, kita juga perlu membimbing mereka untuk kuat secara spiritual. Rutinitas sholawat dan tadarus Al-Qur'an adalah dua pilar yang dapat menenangkan jiwa, menumbuhkan mahabbah kepada Rasulullah ﷺ, dan menguatkan fondasi kesabaran serta hikmah dalam diri. Melalui lantunan sholawat, hati menemukan kedamaian; melalui bacaan Al-Qur'an, jiwa menemukan petunjuk. Ini adalah langkah kecil yang konsisten, tanpa tekanan, namun dampaknya luar biasa dalam membentuk karakter anak dan orang tua.
Gabung pejuang istiqomah: Bersama komunitas AlFatihRPS, mari rutin setor sholawat dan menyempatkan tadarus Al-Qur'an — klik di sini untuk mulai setor sholawat atau baca Al-Qur'an bersama.