Himbauan redaksi
Artikel ini disusun sebagai bahan bacaan dan rujukan awal. Untuk kajian akademis, pembaca disarankan mencocokkan dalil, kutipan, dan istilah dengan sumber primer atau pembimbing keilmuan yang terpercaya.
Malam itu, setelah melihat unggahan teman yang baru saja membeli rumah impian, atau mendengar kabar kenaikan pangkat rekan kerja yang terasa lebih cepat, tiba-tiba ada rasa perih menusuk di dada. Senyum di bibir terasa dipaksa, dan tidur pun jadi gelisah. Bukan iri hati biasa, ini adalah bisikan halus yang perlahan meracuni, mempertanyakan mengapa bukan kita yang menerima nikmat itu.
Perasaan ini, yang dalam khazanah Islam disebut hasad atau dengki, adalah penyakit hati yang seringkali luput dari perhatian kita. Ia tidak terlihat seperti demam atau luka fisik, namun dampaknya bisa jauh lebih merusak. Diam-diam, ia menggerogoti ketenangan batin, merenggangkan silaturahmi, bahkan memadamkan cahaya keimanan. Kita mungkin berpikir itu hanya perasaan sesaat, namun tanpa disadari, hasad menumpuk, menjadi beban berat yang menghalangi kita merasakan manisnya ibadah dan kedekatan dengan Sang Pencipta.
Imam Al-Ghazali, dalam mahakaryanya Ihya' Ulumuddin, secara mendalam membahas tentang hasad sebagai salah satu dari 'penyakit hati' yang wajib diobati. Beliau menjelaskan bahwa hasad adalah membenci nikmat yang Allah berikan kepada orang lain dan berharap nikmat itu lenyap darinya. Ini berbeda dengan ghibtah (iri hati yang terpuji), yaitu keinginan untuk memiliki nikmat serupa tanpa berharap nikmat itu hilang dari orang lain. Hasad, menurut Al-Ghazali, bukan hanya dosa lisan atau perbuatan, melainkan dosa hati yang pertama kali muncul dalam kisah Iblis yang dengki kepada Adam, dan Qabil yang dengki kepada Habil. Ia adalah pangkal segala kejahatan, sebab ia menolak ketetapan Allah.
Bagaimana mungkin hati kita bisa tenang dan ikhlas beribadah jika dipenuhi dengan kebencian terhadap kebahagiaan orang lain? Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:
وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۚ لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِّمَّا اكْتَسَبُوا ۖ وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِّمَّا اكْتَسَبْنَ ۚ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِن فَضْلِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا
Terjemahan:
“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. An-Nisa: 32)
Baca JugaTerjebak Lingkaran Cicilan? Begini Cara Qana'ah Membebaskan Hati
Ayat ini mengingatkan kita bahwa setiap rezeki dan karunia adalah ketetapan Allah yang Maha Bijaksana. Ketika kita dengki, sejatinya kita sedang mempertanyakan keadilan dan kebijaksanaan-Nya. Rasulullah ﷺ juga memperingatkan kita dengan tegas:
إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ، فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ
Terjemahan:
“Jauhilah oleh kalian hasad (dengki), karena sesungguhnya hasad itu memakan kebaikan-kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.” (HR. Abu Dawud)
Hadits ini adalah pukulan telak. Dengki bukan hanya merusak hati, tapi juga menghanguskan pahala amal kebaikan yang telah kita kumpulkan dengan susah payah. Sholat kita, puasa kita, sedekah kita – semua bisa sirna oleh bara api hasad yang tak terkendali. Lantas, bagaimana kita bisa membangun generasi perindu Rasulullah ﷺ jika hati masih diselimuti penyakit yang mematikan ini?
Mengobati hasad adalah perjalanan panjang pembinaan hati, dimulai dengan menyadari bahwa setiap nikmat adalah ujian, dan setiap kekurangan adalah jalan untuk mendekat kepada-Nya. Ini adalah tentang mengalihkan fokus dari apa yang orang lain miliki, kepada apa yang bisa kita persembahkan untuk Allah dan Rasul-Nya. Dengan memperbanyak dzikir, khususnya sholawat, dan tadarus Al-Qur'an, kita sedang membersihkan 'rumah' hati kita dari kotoran. Sholawat menumbuhkan mahabbah (cinta) kepada Nabi ﷺ, yang secara otomatis akan mengikis kebencian dan dengki, menggantinya dengan kedamaian dan rasa syukur. Al-Qur'an adalah syifa’ (penawar) bagi segala penyakit hati, termasuk hasad, sebagaimana firman Allah, “Dan Kami turunkan dari Al-Qur'an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Isra: 82).
Gabung pejuang istiqomah: Bersama komunitas AlFatihRPS, mari rutin setor sholawat dan menyempatkan tadarus Al-Qur'an — klik di sini untuk mulai setor sholawat atau baca Al-Qur'an bersama.