Anda pulang kerja, lelah, namun senyum di wajah sirna seketika saat anak menunduk lesu, mengeluh karena nilai temannya lebih tinggi. Atau mungkin, setiap kali ada perlombaan di sekolah, ia pulang dengan cerita tentang kekalahan yang menyakitkan, atau kemenangan yang terasa hampa karena diiringi rasa cemas akan kompetisi berikutnya. Hati orang tua mana yang tidak ikut teriris melihat buah hatinya terjebak dalam lingkaran perbandingan, merasa tidak cukup, dan kehilangan kebahagiaan dalam proses belajar?
Keresahan ini seringkali berakar pada pemahaman yang keliru tentang kompetisi. Dalam Islam, kita mengenal konsep Fastabiqul Khairat, berlomba-lomba dalam kebaikan. Namun, tanpa bimbingan hati yang benar, 'berlomba' ini bisa bergeser menjadi hasad (iri hati) atau riya' (pamer), yang justru meracuni jiwa. Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin dengan tegas membedakan antara ghibthah (rasa ingin memiliki kebaikan orang lain tanpa berharap hilangnya kebaikan itu dari orang tersebut, yang terpuji) dan hasad (berharap hilangnya nikmat dari orang lain, yang tercela). Pergeseran tipis inilah yang perlu kita waspadai dalam mendidik anak.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:
وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا ۖ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ أَيْنَ مَا تَكُونُوا يَأْتِ بِكُمُ اللَّهُ جَمِيعًا ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
"Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada, pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS. Al-Baqarah: 148)
Ayat ini mengajak kita untuk berlomba dalam kebaikan, bukan dalam kesombongan atau menjatuhkan orang lain. Inti dari Fastabiqul Khairat adalah peningkatan diri, bukan perbandingan yang destruktif. Rasulullah ﷺ sendiri bersabda:
Baca Juga
Terjebak Lingkaran Cicilan? Begini Cara Qana'ah Membebaskan Hati
لاَ حَسَدَ إِلاَّ فِي اثْنَتَيْنِ: رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا فَسَلَّطَهُ عَلَى هَلَكَتِهِ فِي الحَقِّ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ حِكْمَةً فَهْوَ يَقْضِي بِهَا وَيُعَلِّمُهَا
"Tidak boleh ada iri (hasad) kecuali pada dua hal: (terhadap) seorang laki-laki yang Allah berikan kepadanya harta, lalu ia membelanjakannya di jalan kebenaran, dan (terhadap) seorang laki-laki yang Allah berikan kepadanya hikmah (ilmu), lalu ia memutuskan perkara dengannya dan mengajarkannya." (HR. Bukhari)
Hadits ini menjelaskan bahwa 'iri' yang diperbolehkan adalah ghibthah, yaitu keinginan untuk memiliki kebaikan yang sama dan menggunakannya di jalan Allah, bukan keinginan agar orang lain kehilangan nikmat tersebut. Tugas kita sebagai orang tua adalah membimbing anak agar memahami esensi ini. Ajarkan mereka untuk mencintai ilmu, proses belajar, dan upaya keras, bukan sekadar angka atau piala. Fokuskan pada 'bagaimana aku bisa menjadi lebih baik dari diriku kemarin', bukan 'bagaimana aku bisa mengalahkan temanku'. Ibnu 'Athaillah As-Sakandari dalam Al-Hikam mengingatkan kita bahwa segala sesuatu yang tidak mengantar kita kepada Allah, hanyalah kesia-siaan. Demikian pula dengan kompetisi anak, jika hanya berujung pada kebanggaan diri atau hasad, maka ia jauh dari esensi kebaikan.
Membina hati anak agar bersih dari hasad dan penuh dengan ghibthah adalah bagian dari menanamkan mahabbah kepada Rasulullah ﷺ. Nabi kita adalah teladan terbaik dalam keikhlasan, kesederhanaan, dan kasih sayang. Beliau tidak pernah mengajarkan untuk bersaing demi dunia, melainkan berlomba meraih ridha Allah. Dengan membimbing anak untuk beristiqomah dalam belajar dan berbuat baik, semata-mata karena Allah dan meneladani Nabi, kita sedang membangun generasi perindu Rasulullah yang hatinya damai dan penuh cinta, bukan cemas akan perbandingan duniawi.
Gabung pejuang istiqomah: Bersama komunitas AlFatihRPS, mari rutin setor sholawat dan menyempatkan tadarus Al-Qur'an — klik di sini untuk mulai setor sholawat atau baca Al-Qur'an bersama.